The Whirling Dervishes

Ok.... *bersemangat sambil gosok-gosok telapak tangan* tema ini menarik, karena apa yang akan dibicarakan disini adalah salah satu mahakarya yang pernah dibuat oleh manusia yang sampai saat ini masih tetap eksis karena mendapat pengaruh yang besar dari penciptanya. Mahakarya itu adalah tarian Whirling Dervish (Sema') atau dalam bahasa Indonesianya adalah tarian kaum Darwis berputar.

Tarian ini diciptakan oleh Jalaluddin Rumi pada tahun 1273 di Konya (sekarang Turki). Ketika itu Rumi berpisah dengan Mursyid-nya (guru) yang bernama Syams. Ketika Rumi menyadari bahwa Syams ngga akan kembali lagi, ia (Rumi) mengenakan pakaian berkabung (sejenis jubah putih India dengan kopiah wol berwarna merah). Kemudian dia melakukan Sema' untuk mengenang Syams. Dari berbagai acara Sema' inilah mulai terbentuk tarekat Malawi, dan kaumnya disebut kaum Darwis berputar.

Didalam tradisi tarekat Malawi, Sema' merupakan perwakilan dari perjalanan mistis naiknya sebuah jiwa melalui cinta dan akal untuk menuju keadaan "sempurna". Symboliccaly, dalam perjalanan naiknya jiwa ini, adalah perputaran nasib manusia menuju kebenaran, tumbuh dan berkembang melalui cinta, pemusnahan ego, pencarian kebenaran, dan nantinya sampai dalam keadaan "sempurna", kemudian jiwa itu kembali lagi, dengan kedewasaan yang lebih matang. Sekali lagi aku tekankan disini, bahwa tarian itu adalah simbolik. Jadi jangan salah kira kalo setelah melakukan sema', jiwa kita akan menjadi lebih dewasa. Aku juga mau kalo kayak gitu caranya :D.

Cara melakukan tarian ini adalah dengan berputar counter clockwise, tangan direntangkan dengan tangan kanan menghadap keatas dan tangan kiri menghadap kebawah. Arti simbolik dari perputaran ini adalah berputarnya bumi pada porosnya dan perputaran bumi mengelilingi matahari. Sedangkan tangan yang menghadap keatas dan kebawah adalah arti simbolik dari jiwa yang naik keatas langit dan jiwa yang kembali turun ke bumi.

:) Begitulah uraian singkat yang aku ketahui tentang whirling dervish. Salah satu mahakarya dari Jalaluddin Rumi selain puisi-puisi cintanya.

Photo Gallery

Courtesy of Wikipedia












Courtesy of Wikipedia












Courtesy of Daniel Kramer


0 comments:

Post a Comment