Berbagi Dunia

Aku kedatangan seorang teman dari Banjarmasin. Dia berasal dari Bali, dan kedatangannya dari Banjarmasin dikarenakan cuti kerja. Dia dan aku sama-sama suka makan. Dan saat dia ingin sekali makan masakan Bali, aku membawanya ke rumah makan khas Bali di daerah Pengok. Rumah makan yang ketika kamu memasukinya, sudah serasa di Bali. Dekorasinya, kain corak hitam putihnya, sayangnya, minus pemandangan sawah khas Ubud dan salah satu menu yang seharusnya menjadi ciri khas masakan Bali.

Aku : “Nih,…. Kamu bisa puas-puasin makan disini tanpa harus pulang ke kampung halamanmu”

Gusti (temanku) : *membaca daftar menu sambil mengerutkan dahinya* “Lho…?!? Mana lawar-nya? Kok ngga ada di daftar menu?

Aku : *memanggil pelayan* “Bli……”

Pelayan : “Iya mas, ada apa?”

Aku : “mmm, temenku nyari lawar. Apa disini ngga ada menu itu?”

Pelayan : *tersenyum seolah meminta maaf* “Maaf mas, unthuk menu yang sathu ithu kami belum berani menjualnya disini” *berbicara dengan logat khas Singaraja*

Aku : “Lho knapa…?”

Pelayan : *Tersenyum lagi* (orang Bali memang dikenal sangat ramah) “Kami thakuth digerebek warga sini karena menjual menu seperthi ithu

Gusti : *Dengan muka skeptis* “Ooh gitu… Ya udah kalo gitu ayam betutu-nya dua, ares ama tum ayam dua. Minumnya es teh aja.”

Aku : “Es teh-ku pake batang serai ya bli….”

Pelayan : “ Baik….” *sambil menulis menu yang kami pesan, kemudian meninggalkan kami*

Lawar adalah masakan khas Bali yang terbuat dari kulit babi yang dicincang kasar. Dimasak dengan kacang panjang dan disiram dengan darah babi yang sudah direbus terlebih dahulu. Tiap-tiap daerah di Bali, punya cara yang berbeda untuk memasak lawar. Ada yang memasak tanpa darah, ada juga yang memasak dengan cara diurap.
Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa warga sekitar menggerebeknya jika ada menu seperti itu? Aku ulangi, kenapa warga sekitar menggerebeknya jika ada menu yang mengandung daging babi?
Jawabannya mungkin mudah saja. Karena daging babi itu haram.
Tapi, yang diharamkan oleh agama tertentu, bukan berarti haram bagi agama yang lain kan? Lantas kenapa masih mau digerebek? Padahal di Bali saja tidak ada rumah makan yang mengandung daging sapi, digerebek.
Ayolah,…… dunia ini bukan milik satu golongan, satu agama, dan satu suku saja. Berbagilah dengan yang lain. Dengan begitu, yang mayoritas dan minoritas akan berjalan berdampingan tanpa ada kotak-kotak pembatas diantara keduanya.


6 comments:

  1. Anonymous

    ha ha, memang menyedihkan orang-orang yang merasa dunia hanya milik kelompoknya. mungkin perlu proses panjang untuk sampai pemahaman itu. itu pun kalau mereka mau berusaha. :)

    selamat desain barunya

     
  2. Syah

    makasih buat ucapan slamatnya....

     
  3. QQ

    saya mampir :) ...menyenangkan sekali bgitu tau masih ada org yang menghargai perbedaan2. menurut saya memang perbedaan itu dibuat spy dunia ini tdk monoton bukanlah utk mengkotak2kan manusia.

     
  4. Syah

    makasih mbak qq

     
  5. QQ

    btw, aneh ya kok resto bali itu ga brani jual lawar? pdahal dkt situ kan ada resto makanan batak? setau Q makanannya juga babi kok...

     
  6. Syah

    yang rura silindung itu ye? mungkin karena pemilik resto Bali terlalu toleran kali... jadi blm berani jual lawar. :-)

     

Post a Comment