Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Berdamai Dengan Masa Lalu

Sepasang kekasih sedang terlibat pembicaraan yang menyangkut privasi mereka. Mereka melakukan ini karena dalam waktu dekat mereka akan menikah.
Lelaki : “Aku mau tahu masa lalu kamu….. boleh?”
Wanita : “Dimulai darimana? Kamu kan udah tahu semuanya tentang aku.”
Lelaki : “Belum tentang kehidupan seks kamu.”
Sejenak wanita tersebut merunduk. Dengan suara teramat berat dia menceritakan masa lalunya.
Wanita : “Aku melakukannya dengan tiga orang yang berbeda.”
Lelaki : “Semuanya pacar?”
Wanita : “Iya….”
Lelaki : *terdiam, merasa terpukul, lalu menghela napas panjang*
Wanita : “Kalo kamu…?”
Lelaki : “Aku dua. Dan semuanya perawan….” *merunduk*
Suara lelaki tersebut nyaris tak terdengar.
Mereka terdiam. Untuk sepuluh menit lamanya.
Wanita itu mulai meneteskan airmata. Sang lelaki masih saja terdiam.
Setelah tangis wanita itu semakin menjadi, lelaki itu memeluknya. Erat. Erat sekali.
Lelaki : “Dengar sayang, aku bisa menerima kamu apa adanya. Mencintai kekuranganmu. Termasuk masa lalu kamu. Masih mau kan menikah dengaanku?”
Sang wanita masih larut dalam pelukan lelaki itu. Dia tak menjawab pertanyaan. Hanya mengangguk sambil tersengguk.




Read more...

Selingkuh

Seorang ibu muda berusia tiga puluh tiga tahun terlibat percakapan telepon dengan lelaki berusia dua puluh tiga tahun, yang merupakan pasangan selingkuhnya.

Lelaki : “Sayang, kita ketemuan lagi di tempat biasa ya.”

Ibu muda : “Ga bisa my baby boy, kmaren juga udah ketemuan kan? Lagian suamiku hari ini mau dateng. Kamu urusin dulu pacar kamu... yah”

Lelaki : “Ayolah… kita ketemu sebelum suami kamu dateng.”

Ibu muda : “Kenapa sih kamu jadi kayak nagih gitu..? Komitmen awal kita selingkuh kan ga untuk urusan seks mulu.”

Lelaki : “Lho… yang pertama ngajakin selingkuh siapa coba? Terus, yang ngomong kalo kamu ga puas ama suami kamu siapa coba? Kamu kan?”

Ibu muda : “Iya, tapi nanti kalo kita ketahuan selingkuh ama suamiku, anak-anakku bisa dibawa semua ama dia.”

Lelaki : “Salah kamu sendiri, belum resmi cerai udah ngajakin orang selingkuh”

Ibu muda : “Udah.. udah jangan ungkit itu lagi.”

Sambungan telepon pun putus.


Kalau sudah begini, siapa yang salah ?


Read more...

Bukan Lima Tambah Lima Sama Dengan Sepuluh

Bukan lima tambah lima sama dengan sepuluh. Tapi, sepuluh itu berapa tambah berapa. -Anonim-
Djalil dan Agung adalah sahabat sejak kecil. Masa kecil mereka selalu terlewati bersama-sama. Dimana ada Djalil, disitu ada Agung. Seolah tak ada kekuatan yang bisa memisahkan persahabatan mereka yang erat.
Waktu pun cepat berlalu. Djalil dan Agung harus melanjutkan hidup mereka masing-masing. Mereka harus dipisahkan ratusan kilometer untuk menuntut ilmu. Pengalaman hidup dan lingkungan sekitar menempa kepribadian mereka. Djalil menjadi seorang yang sangat fanatik terhadap agamanya dan selalu memandang sinis kepada orang lain yang berbeda dengan pandangannya. Sedangkan Agung menjadi seorang yang sangat toleran. Dia sangat menghargai pendapat orang lain di dalam memeluk agamanya masing-masing.
Djalil dan Agung memeluk agama yang sama.
Enam tahun sejak mereka berpisah, telah berlalu. Mereka kembali ke kampung halaman mereka. Suatu saat mereka bertemu.

Djalil : “Wah, gimana kabar kamu ?”

Agung : “Baik kawan. Mulai bulan depan aku sudah mulai bekerja di perusahaan asing.”

Djalil : “Hah? Apa sih untungnya bekerja di perusahaan asing ? salah-salah nanti kamu malah bisa terpengaruh sama pemikiran mereka yang liberal itu kawan.”

Agung : “Menurut aku, kalau kita punya prinsip kuat yang ada di dalam diri kita, mau bergaul dengan liberalis, sosialis, ataupun komunis pun tidak masalah selama kita tidak terpengaruh.”

Djalil : “Gila kamu, tidak mungkin kamu tidak terpengaruh. Jangan kawan, jangan bekerja pada orang-orang kafir itu. Aku takut kalau kamu menjadi seperti mereka.”

Agung : “Ah, sudahlah… bisa-bisa kita bertengkar gara-gara ini. Oh iya, mau coba kacamataku ?

Djalil : “Boleh”
Djalil melepas kacamatanya sendiri, dan mulai memakai kacamata Agung yang disodorkan kepadanya. Saat Djalil, memakainya, yang tampak dimatanya hanyalah cahaya yang amat menyilaukan. Sehingga nyaris membutakan matanya.

Djalil : “Ah, kacamata apa ini. Hanya membutakan mataku saja.”

Djalil membanting kacamata itu dan memakai kacamatanya sendiri sambil berjalan pergi meninggalkan Agung yang hanya bisa tersenyum bijak.


Read more...

Bahasa Campur Aduk

Dita adalah seorang yang manja jika berada dipelukan Aryo, kekasihnya. Meski begitu, Dita sebenarnya adalah wanita yang mandiri, cerdas, dan pekerja keras, tapi sayangnya mudah sekali tersinggung jika dikritik baik secara halus maupun lugas.
Kekasihnya, Aryo, adalah seorang yang penyabar, bijak, dan suka memberi nasehat kepada pasangannya. Suatu hal yang wajar karena usia Aryo terpaut lima tahun lebih tua.
Suatu saat mereka sedang bercengkerama di depan sofa yang diletakkan didepan TV pada ruang keluarga rumah Dita.

Aryo : “gimana kerjaanmu hari ini sayang ?”

Dita : *mulai larut dalam pelukan Aryo* “Nothing’s special mbil….. aku ga pernah dapet progress dari kerjaanku kali ini”

Panggilan sayang Dita kepada Aryo adalah Gembil. Ini dikarenakan postur tubuh Aryo yang sedikit gempal dengan pipi yang gembil.

Aryo : *mulai membelai rambut Dita yang memang sangat disukai Aryo* “Kok bisa gitu ? kamunya yang kurang serius kali.”

Dita : “Aku selalu serius mbil…mungkin aku merasa saturated n stuck aja.”

Aryo : "Iya deh... eh sayang, kenapa sih kalo setiap kamu ngomong, harus dicampur-campur gitu bahasanya ?"

Dita : "Ya ga papa. Biar keliatan smart aja. Lagian niatanku sebenernya buat nglatih percakapan bahasa inggrisku."

Aryo : "Apakah kalo kita ngomong pake bahasa campur aduk kayak gitu bisa dibilang smart? Bukannya lebih smart kalo ngomong pake bahasa Indonesia atau bahasa Inggris aja?"

Aryo : "Lagian kalo mau nglatih percakapan, mana ada yang dicampur-campur gitu. Yang ada ya Inggris Inggris aja, Indonesia ya Indonesia aja."

Aryo : "Beruntung kalo kamu ketemu orang yang nganggep masalah ini biasa aja. Lha kalo ketemu orang yang apa-apanya selalu dimasukkin ati, bisa disangka belagu kamu nantinya."

Dita yang memang dasarnya adalah orang yang susah dinasehati, mulai sewot dengan nada manja.

Dita : "Ya udah... besok aku nyari cowok bule aja. Biar aku puas nglatih bahasa Inggrisku."

Aryo pun hanya bisa tersenyum bijak. Mengerti bahwa perkataan Dita bukanlah ancaman. Melainkan hanya sebuah pengalih pembicaraan demi mempertahankan ego dan gengsinya yang memang masih besar.

Sungguh beruntung Dita mempunyai pasangan yang penyabar sekaligus pengertian seperti Aryo. Bagaimana jika Dita yang mudah tersinggung itu berpacarkan Tukul Arwana?.
Apa jadinya jika Tukul malah berkomentar begini "Wah, dasar ndeso kamu. Ngomong endonesa aja pake dicampur pake inggris. Kayak gitu kok semart. Wong orang inggris aja udah semart kok meski ngomongnya ga dicampur pake bahasa endonesa."


Read more...

Tawaran Yang Tak Bisa Ditolak

Aldi tak pernah bisa menolak jika harus menerima tawaran yang diajukan temannya. Bukan karena Aldi adalah orang Jawa yang rikuhan apabila mau menolak sesuatu. Tetapi lebih karena rasa solidaritas kepada temannya, sehingga dia tak bisa menolak sebuah tawaran.
Suatu saat teman-temannya akan mengajak Aldi berlibur ke Bali pada cuti kerja mendatang. Karena tempat kerjanya selalu menuntut konsentrasi penuh, maka Bali adalah pilihan yang tepat untuk mengendurkan syaraf otak yang setiap hari selalu menegang.
Saat tiba di Bali mereka bingung harus memulai dari mana untuk menghabiskan anggaran mereka untuk berlibur. Sampai pada akhirnya salah satu dari mereka yang sex addict mengusulkan untuk ke kompleks pelacuran terlebih dahulu. Bercinta dengan pelacur selalu membuatnya rileks. Semua pun setuju kecuali Aldi. Dia masih agak bimbang untuk menerima tawaran teman-temannya itu. Meski hubungan cinta Aldi selalu bisa berakhir di ranjang, dia pantang untuk melakukannya dengan pelacur.
Satu jam berikutnya, mereka sampai di sebuah kompleks pelacuran. Aldi yang masih terlihat bingung, ditanyai lagi oleh teman-temannya.

Teman 1 : "Kamu jadi mau make ga?"

Aldi : "Ga deh... aku langsung ke hotel aja. Badanku masih ga enak gara-gara naik pesawat murah tadi"

Teman 2 : "Kamu kenapa ? takut ama AIDS ?"

Aldi : "Iya sih sebenernya. Aku takut ama AIDS"

Aldi berharap inilah alasan terakhir untuk bisa mencegah dirinya bercinta dengan pelacur. Tapi salah satu temannya justru memberikan tawaran yang tak bisa ditolaknya.

Teman 1 : "Untuk apa kamu takut ama penyakit yang akan membunuhmu tujuh atau sepuluh tahun mendatang, sedangkan kamu bisa mati kapan aja. Ayolah, nanti setengahnya biar aku yang bayar"

Aldi pun termakan logika temannya. Logika bahwa AIDS adalah penyakit yang bisa membunuhnya untuk jangka waktu yang lama, sedangkan dia bisa mati kapan saja. Bahkan dalam pesawat murah yang akan membawanya pulang nanti.



Read more...

Adat Tak Bisa Diubah Oleh Kekuatan Apapun

Saat ini Shinta telah beranjak dewasa. Usianya telah memasuki 17 tahun. Dia dibesarkan oleh keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan adat daerahnya. Karena itu, di usianya sekarang ini, dia tak pernah merasakan betapa manisnya masa remaja. Adatnya membatasi ruang geraknya untuk tidak keluar malam, berpergian sendirian, meski kadang semua itu dirasa perlu baginya.
Ayah Shinta adalah seorang yang konservatif. Dia mendidik anaknya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh orang tuanya dulu. Tanpa bisa memahami perasaan sang anak. Ketika Shinta mulai menyanggah pendapat ayahnya, pipi Shinta ditamparnya sambil berkata "Kalau dinasehati orang tua, jangan membantah". Padahal Shinta tahu bahwa dia tidak membantah, dia hanya ingin mengajak ayahnya berdiskusi. Bagi ayahnya, mengatur anak adalah mutlak berada ditangannnya. Dan diskusi adalah sesuatu yang dianggap tabu dalam adatnya.
Ibu Shinta seorang yang patuh terhadap suami. Dia sebenarnya tak menyetujui cara suaminya mendidik Shinta. Tapi adatnya lagi-lagi membatasinya bahwa tidak sepatutnya seorang istri menentang suami.
Saat usia Shinta memasuki 19 tahun, dia harus menuntut ilmu di luar kota. Kota yang sama sekali belum pernah dijamahnya seumur hidupnya. Ayahnya pun percaya, dengan caranya mendidik Shinta dan nilai-nilai budaya yang ditanamkannya, Shinta tak akan terjerumus oleh pergaulan yang dianggapnya tak sesuai dengan adat daerahnya.
Tapi kenyataan berkata lain. Shinta yang selama ini selalu terkekang oleh ayahnya, perlahan-lahan mulai menemukan kebebasan. Kebebasan yang bertentangan dengan nilai-nilai adat dan budaya yang ditanamkan ayahnya. Dan sampai pada akhirnya, Shinta hamil di luar nikah.
Ayahnya yang telah mengetahui hal ini, menampar Shinta habis-habisan. Setiap tamparannya seolah berkata "Anak tak tahu adat, anak pembangkang, anak bikin malu orang tua". Hingga akhirnya sang ayah memutuskan untuk menggugurkan kandungan Shinta. Karena baru mengetahui bahwa orang yang menghamili Shinta, adalah lelaki yang berbeda latar belakang budaya dan adat daerahnya. Ibunya hanya bisa menangisi penderitaan Shinta tanpa pernah mau menentang keputusan suaminya. Shinta hanya bisa pasrah menerima nasib sebagai anak yang terlahir di keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan adat.


Read more...

Kenapa Harus Ada Buruk Sangka ?

Prejudice is the reason of fools. (Voltaire)

Sudah lama Vita merindukan suaminya. Suami yang beribu kilometer jauhnya untuk bekerja menghidupi keluarganya. Mereka adalah pasangan muda yang belum dikaruniai anak, dan belum lama ini tinggal di kontrakkan yang lingkungan sekitarnya lebih mengutamakan rasa kekeluargaan daripada individu meski kadang bagi sebagian orang rasa kekeluargaan itu melanggar privasi orang lain. Sebelumnya mereka masih tinggal bersama orang tuanya.
Karena kesibukannya sebagai pekerja dan mahasiswi S2, Vita kehilangan waktu untuk bersosialisasi dengan tetangganya. Dan berharap, dengan kesibukannya yang menyita waktu itu, tetangganya bisa memakluminya.
Saat itu pun tiba. Suami yang dirindukannya, cuti kerja selama 2 minggu. Rasa rindu selama 6 bulan, akan terobati malam ini. Saat dia bertemu suaminya.
Waktu menunjukkan pukul 1 malam saat Vita bersama suaminya bertolak dari stasiun untuk menuju rumahnya. Saat hendak melewati tikungan terakhir, motor mereka dihentikan oleh sekelompok pemuda yang sedang jaga malam.

Pemuda 1 : "Oi mas, malem-malem gini mau kemana? mau nginepin cewek ?...!"

Pemuda 2 : *berbisik kepada pemuda 1* "Udah tangkep aja... pasti mereka mau berbuat mesum tuh."

Suami : "Saya mau pulang kerumah di depan tikungan situ mas. Cewek ini istri saya."
Vita mulai ketakutan.

Pemuda 3 : *menarik lengan suami* "Ga usah bohong" *sambil melayangkan tinjunya kearah pipi suami*

Pukulan berikutnya datang bertubi-tubi. Hingga sang suami babak belur. Vita hanya bisa menangis histeris sambil berlari ke rumahnya. Diambilnya bukti sahih yang berada di lemarinya bahwa mereka memang telah menikah. Ditunjukkannya bukti itu kepada sekelompok pemuda tersebut yang masih memukuli suaminya. Saat itu tetangga yang lain sudah berhamburan keluar rumah.

Vita : "Ini buktinya kalo kami telah menikah"

Saat Vita menunjukkan akte nikahnya, Pemuda-pemuda itu hanya terdiam kaku. Malu akan tindakannya memukuli suami Vita, dan masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dengan wajah yang babak belur, sang suami berjalan pulang meninggalkan kerumunan sambil menuntun motornya. Di perjalanan pulang, dia hanya bisa mengutuki orang-orang yang berburuk sangka kepadanya tanpa berniat menuntut mereka. Otaknya diselimuti pertanyaan-pertanyaan. Kenapa harus ada buruk sangka di dunia ini.


Read more...

Naluri Ibu

Mother is the name for God on the lips and hearts of all children. (Brandon Lee in The Crow)


Rahma dan Indra telah saling mengenal sejak mereka duduk di bangku SMP. Meski mereka telah kenal lama, mereka baru berpacaran saat usia mereka memasuki 25 tahun. Dan sampai pada akhirnya Indra berencana akan melamar Rahma.
Rahma, yang telah mengetahui bahwa Indra akan melamarnya, memberi tahu orang tuanya tentang rencana lamaran Indra.

Rahma : "Mah, pah.... Mas Indra mau melamar Rahma akhir bulan ini"

Bapak : "Oh bagus itu... papah sih setuju aja. Dia anak yang baik. Asal kamu udah siap semuanya aja."

Ibu : "Kalo mamah ngga setuju gimana?"

Pertanyaan ibunya mengagetkan Rahma.

Rahma : "Ngga setuju gimana mah?"

Ibu : "Indra itu egonya gede... kamu siap kalo nantinya malah makan ati terus?"

Rahma : "Lho tapi kan mamah baru mengenalnya beberapa bulan ? Kok mamah bisa nyimpulin kalo mas Indra orangnya egois ?"

Ibu : "Iya mamah tau. Lagian usia kalian kan sepantaran. Kalo usia sepantaran, nantinya akan susah untuk membina rumah tangga."

Rahma : "Mah,... memangnya kenapa kalo sepantaran mah?. Kedewasaan seseorang kan ngga bisa ditentuin dari banyaknya usia?. Mas Indra pun juga udah ngga egois lagi. Rahma yang merubahnya mah..."

Rahma adalah anak yang berpikiran logis. Segala sesuatunya akan dianggap baik jika benar menurut logikanya. Dia pun sebenarnya anak yang patuh dan tak pernah membantah orang tuanya. Karena semua arahan dan nasehat orang tuanya, adalah logis menurut logikanya. Tapi kali ini dia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Antara cintanya kepada Indra dan kepatuhan pada ibunya.
Setelah lama berdebat dengan ibunya, Rahma pun akhirnya mengalah. Dia memilih akan terus menjalin hubungan dengan Indra dan menunda lamarannya sampai ibunya setuju akan hubungan mereka.
Tiga bulan pun berlalu. Dan tepat tanggal 22 Desember. Indra yang begitu dicintainya, mengkhianati cinta tulusnya. Selama dia menjalin hubungan dengan Rahma, dia juga mencintai wanita lain. Dia menutupi perselingkuhan dengan begitu rapinya. Mereka pun akhirnya mengakhiri hubungan mereka.
Beberapa jam setelahnya, Rahma menangis sejadinya di pelukan ibunya. Meminta maaf atas kejadian tiga bulan lalu meski ibunya menganggap bahwa Rahma tidak melakukan kesalahan. Sambil masih memeluk ibunya yang selama 25 tahun menjadi pelita hatinya, dia baru menyadari bahwa logikanya takkan berarti apa-apa jika dibandingkan dengan naluri ibunya. Dia pun juga menyadari bahwa restu ibu sesungguhnya adalah restu Tuhan.


Read more...

A Friend In Need, Is A Friend Indeed

A friend who helps out when we are in trouble is a true friend, unlike others who disappear when trouble arises.


Aryo adalah seorang yang lemah secara fisik. Jika ada Nobita yang nyata di dunia ini, maka Aryo-lah orangnya. Sejak duduk di bangku SMP dia selalu terkucil dan hampir tak punya seorang teman pun. Teman-temannya selalu meremehkan, menghina, bahkan selalu meledeknya karena kelemahan fisiknya. Tapi, Aryo adalah Nobita yang cerdas. Ya, dia adalah anak yang pandai secara akademis. Hanya bukulah yang bisa menghibur dia dari dunianya yang sepi. Setiap harinya selalu dihabiskan dengan membaca buku.
Saat dia beranjak ke bangku SMA pun sama saja. Fisiknya yang lemah masih menjadi bahan olok-olok temannya. Hingga akhirnya dia tidak punya rasa percaya diri ketika akan memulai untuk mempunyai seorang teman.
Tahun-tahun pun berubah, begitu juga manusia. Aryo yang sekarang telah berubah menjadi seorang yang hebat. Bisa menghidupi anak dan istrinya lebih dari cukup dalam usia 23 tahun. Sampai suatu saat datanglah momen dimana dia tak mampu menjawab sebuah pertanyaan yang dibuat oleh momen tersebut. Dia bertemu teman SMA-nya dulu.

Teman SMA Aryo : "Hey.... kamu Aryo kan? wah.... hebat ya sekarang kamu. udah kerja dimana sekarang?"

Aryo : "Perusahaan minyak...." *menjawab dengan rendah hati*

Teman SMA Aryo : "Ada lowongan ngga di tempat kerjamu itu? Aku masih nganggur nih, kalo ada lowongan, kabari aku ya. Ini no HP-ku"

Saat itu yang ada dalam benak Aryo adalah sebuah pertanyaan yang mungkin takkan bisa dia jawab seumur hidupnya. Pertanyaan itu adalah, "Saat aku kaya secara materi, kenapa begitu banyak orang yang tahu-tahu muncul mendekat dihadapanku dan berharap padaku? Kenapa bukan waktu aku sekolah dulu, saat aku bukan siapa-siapa?"


Read more...

Terbaik Terbaik

Sepasang kekasih sedang larut dalam obrolan yang serius. Obrolan yang menyangkut kelangsungan hubungan mereka.

Laki-laki : "Sayang,.... aku ga bisa mencintaimu lagi. Aku rasa kita harus mengakhiri hubungan ini"

Perempuan : *Terhenyak kaget dari sandaran bahu sang lelaki* "Kenapa sayang?"

Laki-laki : "Aku udah ga mencintaimu lagi. Itu aja"

Perempuan : "Iya.... tapi kan ada alasannya" *matanya mulai berkaca-kaca*

Laki-laki : *ragu dan bimbang* "Aku mencintai perempuan lain"

Perempuan : *Terdiam... sesaat kemudian, pipinya telah dibasahi airmata yang perlahan-lahan semakin deras*

Laki-laki : "Aku udah menemukan perempuan yang baik darimu, lebih dewasa, lebih smart. Lebih segala-galanya darimu. Dialah yang terbaik."

Perempuan : *Tangisnya menjadi-jadi, memegangi mulut sambil menggelengkan kepalanya* *tak berkata apa-apa*

Laki-laki : "Aku rasa udah tak ada yang perlu diomongin lagi. Aku pergi" *tanpa sepengetahuan sang perempuan, laki-laki itu menitikkan airmatanya, kemudian pergi meninggalkan perempuan itu*

Perempuan : *Jatuh berlutut sambil menangis. Tangis yang perih dengan hati yang tercabik dan cinta yang tercerabut. Sebuah perasaan yang tak akan pernah hilang dari ingatannya*

(bersambung...)

Satu pertanyaan. Apakah tindakan yang dilakukan sang laki-laki itu bisa dibenarkan?
Wajar memang bagi seseorang untuk mengharapkan yang terbaik dari pasangannya. Tapi jika begitu caranya, seolah seperti running in circle, and chasing in tail. Tak bertepi...
Saat kita mencari pasangan yang terbaik untuk kita, apakah itu terbaik untuk saat ini dan masa yang akan datang? Bagaimana saat kita sudah menemukan pasangan yang terbaik, tiba-tiba muncul orang lain lagi yang justru lebih baik? Bagaimana jika pasangan yang kita tinggalkan justru malah berubah menjadi seseorang yang lebih baik? Apa sekali lagi harus kita tinggalkan pasangan kita untuk mendapatkan yang lebih baik itu?

(sambungan...)

Lima tahun pun berlalu. Sang laki-laki tersadar bahwa dia lelah untuk mencari pasangan yang terbaik. Dia berharap perempuan yang ditinggalkannya lima tahun yang lalu masih mau menerimanya. Karena dengan perempuan itulah dia merasakan cinta yang lain. Akhirnya mereka pun bertemu.

Laki-laki : "Maafkan aku.... "

Perempuan : "Sudah aku maafkan. Aku pun tak bisa melupakanmu. Entah kenapa...."

Laki-laki : "Maukah kita buka lembaran baru hubungan kita?"

Perempuan : *Tersenyum bijak* "Tentu...."

Laki-laki : *memeluk erat sang perempuan seolah ingin menghapus kesalahan yang telah dibuatnya lima tahun lalu*

Laki-laki : "Sayangku, akhirnya aku menyadari bahwa mencari pasangan yang terbaik itu takkan ada habisnya. Aku telah mendapatkan pasangan yang bisa mencintai dan menghargai diriku."

Perempuan : *bergelayut manja di lengan sang laki-laki*

Maaf kalau ending-nya tidak sesuai yang diharapkan. Karena aku rasa itulah yang terbaik.


Read more...

Berbagi Dunia

Aku kedatangan seorang teman dari Banjarmasin. Dia berasal dari Bali, dan kedatangannya dari Banjarmasin dikarenakan cuti kerja. Dia dan aku sama-sama suka makan. Dan saat dia ingin sekali makan masakan Bali, aku membawanya ke rumah makan khas Bali di daerah Pengok. Rumah makan yang ketika kamu memasukinya, sudah serasa di Bali. Dekorasinya, kain corak hitam putihnya, sayangnya, minus pemandangan sawah khas Ubud dan salah satu menu yang seharusnya menjadi ciri khas masakan Bali.

Aku : “Nih,…. Kamu bisa puas-puasin makan disini tanpa harus pulang ke kampung halamanmu”

Gusti (temanku) : *membaca daftar menu sambil mengerutkan dahinya* “Lho…?!? Mana lawar-nya? Kok ngga ada di daftar menu?

Aku : *memanggil pelayan* “Bli……”

Pelayan : “Iya mas, ada apa?”

Aku : “mmm, temenku nyari lawar. Apa disini ngga ada menu itu?”

Pelayan : *tersenyum seolah meminta maaf* “Maaf mas, unthuk menu yang sathu ithu kami belum berani menjualnya disini” *berbicara dengan logat khas Singaraja*

Aku : “Lho knapa…?”

Pelayan : *Tersenyum lagi* (orang Bali memang dikenal sangat ramah) “Kami thakuth digerebek warga sini karena menjual menu seperthi ithu

Gusti : *Dengan muka skeptis* “Ooh gitu… Ya udah kalo gitu ayam betutu-nya dua, ares ama tum ayam dua. Minumnya es teh aja.”

Aku : “Es teh-ku pake batang serai ya bli….”

Pelayan : “ Baik….” *sambil menulis menu yang kami pesan, kemudian meninggalkan kami*

Lawar adalah masakan khas Bali yang terbuat dari kulit babi yang dicincang kasar. Dimasak dengan kacang panjang dan disiram dengan darah babi yang sudah direbus terlebih dahulu. Tiap-tiap daerah di Bali, punya cara yang berbeda untuk memasak lawar. Ada yang memasak tanpa darah, ada juga yang memasak dengan cara diurap.
Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa warga sekitar menggerebeknya jika ada menu seperti itu? Aku ulangi, kenapa warga sekitar menggerebeknya jika ada menu yang mengandung daging babi?
Jawabannya mungkin mudah saja. Karena daging babi itu haram.
Tapi, yang diharamkan oleh agama tertentu, bukan berarti haram bagi agama yang lain kan? Lantas kenapa masih mau digerebek? Padahal di Bali saja tidak ada rumah makan yang mengandung daging sapi, digerebek.
Ayolah,…… dunia ini bukan milik satu golongan, satu agama, dan satu suku saja. Berbagilah dengan yang lain. Dengan begitu, yang mayoritas dan minoritas akan berjalan berdampingan tanpa ada kotak-kotak pembatas diantara keduanya.


Read more...